Apa yang Anda percayai tentang Demokrasi?
Hal apa yang membuat Anda berpikir bahwa Demokrasi adalah satu-satunya jalan menuju pembebasan, jika anda adalah seorang pejuang Demokrasi?
Apa bukti nyata yang dapat Anda sodorkan bahwa Demokrasi adalah pembebas manusia dari ketidakadilan, jika Anda adalah seorang pembela Demokrasi?
Tak pernah ada bukti yang memperlihatkan Demokrasi mampu membebaskan Anda dan orang-orang dari ketidakadilan.
Kenapa saya bertanya demikian, dan menjawab demikian?
Saya berusaha untuk bersabar dan melihat dengan objektif jika Demokrasi suatu saat akan membebaskan.
Namun sial…
Saya tak pernah sampai pada kepercayaan jika Demokrasi mampu membebaskan.
Banyak hal…
Banyak hal yang telah diperlihatkan pada saya secara sengaja atau tak sengaja tentang betapa racunnya Demokrasi itu bagi kehidupan.
Saya tak mampu lagi bisa berdamai dengan kerasnya kepala orang-orang yang menjadikan Demokrasi sebagai pembebas atau tuhan mereka.
Sampai saat ini saya merasa cukup dengan kebohongan dan konspirasi yang ditanamkan tentang doktrin Demokrasi.
Jika masih ada bukti kebohongan itu hanya akan menambah sesak jiwa saya saja.
Saya begitu tertegun pada perbincangan sebuah mata kuliah yang diajarkan oleh seorang dosen yang notabene adalah seorang sekular dan pendukung demokrasi. Dengan kesadaran penuh dia mengungkapkan dengan jujur bahwa Demokrasi memang tak pernah memuaskan semua orang, akan ada pihak-pihak yang dirugikan. Tapi yang penting katanya kita telah melakukan usaha dan upaya demokratis.
Namun itulah Demokrasi… sebuah ide untuk kepentingan segelintir orang—tak pernah untuk semua orang. Percayakah Anda itu? Saya percaya.
Dosen saya itu bercerita tentang film Fitna yang telah menyulut emosi orang-orang muslim di dunia. Dengan santainya sang dosen berkata, “kenapa harus emosi? Selesaikan saja di pengadilan agar fair dan demokratis, ga usah kasak kusuk menanggapinya.” Begitu katanya.
Tahukan Anda apa yang terjadi di persidangan film Fitna itu? Ternyata yang memenangkan persidangan adalah pembuat onar dan pengumbar fitnah dan kebohongan tentang Islam, sang pembuat film itu. Dan yang kalah adalah orang-orang muslim yang menuntut hak dan keadilan terhadap pelecehan terhadap agama mereka. Dan dosen saya berkata, “Ya setidaknya proses demokrasi telah dilaksanakan, pihak mana yang menang dan kalah dan siapa yang salah dan benar bukanlah perkara demokrasi.” Saya benar-benar ternganga mendengarnya. Lalu saya berpikir, “ooo…jadi Demokrasi hanya sampai pada taraf membebaskan orang-orang dalam mengekpresikan dirinya, namun tidak untuk memutuskan sebuah keadilan yang adil.” Ya begitulah… Demokrasi hanya sampai pada taraf Anda membawa persoalan ke meja hijau, setelah itu tak ada lagi. Yang memilukan adalah kemenangan pihak yang melakukan makar dianggap sebuah pencapaian demokrasi yang sebenarnya. Bagaimanakah Anda membayangkan ini? Saya jadi jijik melihatnya
Pernahkan Anda melihat bahwa Demokrasi hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang memperjuangkannya, bukan untuk orang-orang yang menentangnya. Itu maknanya Demokrasi bukan untuk rahmat seluruh alam. Pernahkan orang-orang yang menentang Demokrasi didengar suaranya? Padahal seorang tokoh pengusung ide kebebasan dan Demokrasi pernah berkata,
“I disapprove of what you say, but I will defend to the death your right to say it.”
Sesungguhnya kutipan di atas sangat ambivalen dan bias. Kutipan di atas pada faktanya tidak diperuntukkan bagi orang-orang yang kepentingannya dikatakan sebagai penghambat Demokrasi.
Kemudian pada sebuah kutipan lain, seorang pejuang Demokrasi pernah berkata:
“If liberty means anything at all it means the right to tell people what they do not want to hear.” – George Orwell, Preface to Animal Farm (1946)
Dan pada saat yang bersamaan dari sinilah kejahatan dan kesesatan itu dimulai. Bagaimana mungkin Anda akan membiarkan orang-orang bodoh meracau dan menguasai bumi ini jika Anda mempercayai kutipan di atas? Dan lebih parahnya Anda bisa saja membiarkannya menang dan mengalahkan Anda dengan kebodohan dan kesesatannya atas nama Demokrasi padahal dia akan menjerumuskan Anda pada jurang kematian. Dimanakah akal sehat orang-orang yang telah melakukan ini? Kalau pun ‘etika’ ini diterapkan intinya yang dapat menerapkan kata-kata kutipan di atas hanyalah orang-orang yang mendukung Demokrasi karena Demokrasi bukanlah milik semua orang, karena dia adalah milik segelintir orang yang memiliki kekuasaan dan kepentingan tertentu.
Saya sungguh tak habis pikir. Anda tak mesti sekolah tinggi untuk melakukan tindakan rendahan seperti di atas.
Pada momen kedua, saya kembali tertegun ketika pagi tadi dosen saya membincangkan perihal kebebasan arus informasi. Dia mengatakan sesungguhnya ide kebebasan informasi sebagai refleksi dari Demokrasi adalah sebuah alat Negara adidaya Amerika untuk melancarkan dan memancangkan kekuasaannya. Dengan jargon kebebasan arus informasi atas nama Demokrasi inilah Amerika merancang model Perang Dingin pada waktu itu. Dan dengan inilah dia menyebarkan paham kapitalisme.
Lalu apakah Demokrasi itu?
Seberapa tangguh dan mempesonanya Demokrasi itu?
Bukankah dia hanyalah alat.
Dia hanyalah mitos untuk pembenaran sebuah kepentingan.
Dia bukanlah apa-apa.
Dia tak punya kekuatan.
Dan dia tak punya seperangkat sistem ideologi yang dapat menjaganya sehingga tak diganggu gugat seenaknya.
Jika saya bertanya tentang apa itu Demokrasi yang sesungguhnya, saya dengan sangat yakin Anda takkan mampu menjelaskannya dengan sangat meyakinkan pada saya seberapa tangguh dan kramatnya dia.
Dia hanyalah mitos dan jampi-jampi dalam sebuah perdukunan di zaman modern ini.
Saya semakin bergidik dan ingin muntah saja.