Mengapa kemenangan dakwah tak kunjung datang, padahal gerakan dakwah ini semakin lama semakin matang ? Mengapa nashrullah (pertolongan Allah) tak kunjung turun, padahal perjuangan dakwah ini sudah berjalan puluhan tahun ? Mengapa Khilafah tak kunjung tegak berdiri, padahal jama’ah dakwah ini, selama ini, konsisten mengikuti manhaj Nabi saw.?
Mungkin beberapa pertanyaan di atas pernah terbersit dalam jiwa setiap pengemban dakwah, tentu yang senantiasa menjadikan dakwah sebagai focus perhatian dan poros hidupnya. Tidak jarang, pertanyaan – pertanyaan semacam ini memunculkan keraguan dalam jiwanya terhadap kesahihan fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode dakwah) yang selama ini ditempuh gerakan dakwahnya. Tidak jarang pula pertanyaan – pertanyaan di atas membersitkan ketidak-tsiqah-an dirinya terhadap harakah dakwah sekaligus qiyadah-nya.
Pertanyaan – pertanyaan di atas sebetulnya wajar, bahkan harus selalu menjadi bahan tafakur dan renungan setiap pengemban dakwah. Dengan itu ia akan selalu bersikap kritis terhadap setiap penyimpangan –hatta seujung rambut- yang dilakukan oleh jama’ah dakwahnya dari manhaj dakwah Rasulullah saw. Namun, sudah selayaknya pertanyaan – pertanyaan itu juga memunculkan sikap kritis terhadap dirinya sendiri. Sudahkah ia menjadi pengemban dakwah sejati sebagaimana Rasulullah saw. dan para Sahabatnya ? Sebab jangan – jangan tertundanya nashrullah dan tak kunjung tegaknya Khilafah adalah karena kualitas keimanan maupun ketakwaan kita yang masih sangat jauh dibandingkan dengan generasi salafus – shalih dulu.
Rasulullah saw dan para Sahabatnya, juga generasi salafus – shalih setelah mereka, meraih kemenangan demi kemenangan atas musuh – musuh mereka karena mereka senantiasa berpegang teguh pada agama ini.
Di dalam banyak kitab Sirah telah diriwayatkan bahwa musuh mana pun tidak sanggup bertahan lama menghadapi para Sahabat Rasulullah saw., bahkan Kerajaan Romawi sekalipun, yang saat itu merupakan sebuah “Negara Adidaya”.
Mengapa pasukan Romawi bisa dikalahkan oleh kaum Muslim ? Inilah yang juga menjadi pertanyaan Heraklius, penguasa Romawi saat itu. Saat berada di Antakiah dan pasukan Romawi pulang dalam keadaan kalah menghadapi kaum Muslim, Heraklius berkata kepada pasukannya, “Celaka kalian ! Jelaskan kepadaku tentang orang – orang yang berperang melawan kalian ? Bukankah mereka juga manusia seperti kalian ?!”
“Benar,” jawab pasukan Romawi.
“Siapa yang lebih banyak pasukannya, kalian atau mereka ?”
“Kami lebih banyak pasukannya beberapa kali lipat di semua tempat,”
“Lalu, mengapa kalian bisa dikalahkan ?”, tanya Heraklius lagi.
Salah seorang tokoh Romawi berkata, “Karena mereka biasa melakukan salat malam, berpuasa pada siang hari, menepati janji, melakukan amar makruf nahi munkar dan berlaku adil kepada sesama mereka. Sebaliknya, kita biasa minum minuman keras, berzina, melakukan keharaman, ingkar janji, merampok, menzalimi orang, memerintahkan hal – hal haram, melarang hal – hal yang diridhai Tuhan serta membuat kerusakan di muka bumi.”
Kepada tokoh itu, Heraklius berkata, “Kamu benar !” (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Marwan al-Malik, dalam kitab al-Bidayah (VII/15) : juga oleh Ibnu Asakir)
Sebab – sebab pembawa kemenangan juga pernah dijelaskan oleh salah seorang intel Romawi yang dikirim untuk menyelidiki kondisi kaum Muslim. Usai menjalankan tugasnya, intel itu menjelaskan kondisi kaum Muslim, “Mereka adalah “para biarawan” (para ahli ibadah) pada malam hari dan pendekar ulung pada siang hari. Jika anak penguasa mereka mencuri, mereka memotong tangannya, dan jika ia berzina, mereka merajamnya, untuk menegakkan kebenaran di tengah – tengah mereka.”
Mendengar itu, atasan sang intel itu berkata, “Jika laporanmu ini benar, perut bumi (kematian, pen.) lebih baik bagiku daripada berhadapan dengan mereka di atas permukaan bumi. Aku berharap Tuhan tidak mempertemukan aku dengan mereka.” (Diriwayatkan al – Baihaqi dalam as-Sunan al – Kubra, VIII/175)
Jelas, kemenangan generasi Muslim terdahulu adalah karena keteguhan hati mereka dalam berpegang teguh pada agama ini. Sebaliknya, kekalahan yang mereka alami adalah karena kebalikannya.
Jika kita menelaah Perang Uhud, misalnya, kita akan menemukan bahwa sebab kekalahan kaum Muslim di dalamya ialah karena perilaku sebagian kecil dari mereka yang tidak menaati perintah Rasulullah saw. Sebagian pasukan pemanah, yang jumlah mereka tidak mencapai 4 % dari jumlah total pasukan kaum Muslim ketika itu, melakukan tindakan indisipliner. Mereka bermaksiat terhadap perintah Rasulullah saw. Akibatnya, 70 oarang Sahabat terbunuh ; perut mereka dibelah, hidung dan telinga mereka dimutilasi ; Rasulullah saw. sendiri terluka, wajah Beliau tergores, dan gigi antara gigi seri dan gigi taring Beliau rontok.
Jadi, mengapa nashrullah (pertolongan Allah) tak kunjung turun, kemenangan tak kunjung datang, dan Khilafah tak kunjung tegak ? Boleh jadi, semua itu berpangkal pada kemaksiatan kita, bukan karena ketidahsahihan fikrah dan thariqah dakwah kita. Mungkin karena selama ini kita pun bermaksiat kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Mungkin selama ini kita belum bisa menjaga kejernihan akal-pikiran kita ; belum bisa memelihara kebersihan hati kita dari penyakit riya, ujub, sombong, ambisi jabatan, dll ; belum mampu melindungi pandangan kita dari hal – hal yang haram ; belum sanggup menjaga lisan kita dari ucapan – ucapan yang tidak berguna ; dan belum dapat mengendalikan anggota tubuh kita dari perilaku maksiat. Mungkin selama ini kita juga sering melalaikan akad, mengkhianati amanah (terutama amanah dakwah) serta melanggar janji dan sumpah (terutama untuk taat dan patuh pada qiyadah atas nama Allah)
Jika semua itu yang memang menjadi factor mengapa nashrullah, kemenangan, dan Khilafah tak kunjung segera terwujud, maka tidak ada cara lain selain kita harus segera bertobat dengan taubat(an) nasuha : kembali kepada Allah ‘Azza wa jalla dengan segala kesucian jiwa-raga.
Wa maa tawfiiqii illaa billaah.
(diambil dari salah satu majalah al-Wa’ie oleh Bro Arif B. Iskandar)