Tentang “Atap Yang Dicuri”

Kau tahu…aku berduka akan keadaan diri manusia-manusia yang merintih berkepanjangan. Apakah hidup hanya akan diisi oleh rintihan dan lolongan memilukan? Sampai kapan itu akan berakhir?

Telah lama sekali dunia ini dibagi-bagi menjadi negara-negara kecil yang memiliki pemrintahan ‘otonom’ sendiri. Berharap semua hajat hidup dapat dilepaskan dengan sempurna di bawah nama sebuah negara. Negara tinggallah nama. Bahkan kau akan mengalami kesulitan yang sangat saat kau berusaha mencari maknanya. Semua mengabur…bahkan kehilangan makna.

Ketika hujan menghujam dan panas menyembur ke bumi pastinya kau dan aku dan semua orang ingin berteduh pada sebuah atap. Namun apa mau dikata, atap itu telah hilang…entah siapa yang mencurinya.

Pencurian atap itu berakhir pada malapetaka yang merajalela. Kau tak mungkin berpikir melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang diberi judul “Waiting for Godot”. Kita hanya akan mati sia-sia melakukan hal itu.

Lalu apa sekarang? Apa yang hendak kita lakukan untuk ini?
Beberapa orang mengusulkan pemilihan para pemimpin dan wakil2 yang diharapkan akan membawa harapan-harapan khalayak yang teraniaya. Dengan nama sebuah perhelatan besar. Sesuai dengan namanya, perhelatan besar ini benar-benar menguras harta kekayaan yang luar biasa. Suatu hal yang mencengangkan! Kenapa kita tak beli atap baru saja dengan kekayaan yang melimpah tersebut??? Kau bisa lihat kan di layar-layar tiga dimensi di rumah-rumahmu himbauan dan rayuan manis ditebar. Dan itu tidak gratis, para penghimbau dan perayu membayar mahal jika kusebutkan angkanya bola matamu akan terbelalak. Mungkin cukup untuk membeli seperempat atap yang hilang dicuri.

Setelah perhelatan besar itu semua kembali ke situasi biasa yang bernama kemiskinan, sebuah fenomena “biasa”.

Kemudian, semua orang seolah bertanya, “Lalu apa yang salah?”
Apa yang salah sebenarnya dengan diri kita dan atap kita yang entah telah hilang ataukah dicuri itu. Mungkin kitu lupa sebelum atap itu dipasang kita tidak menyebutkan atap seperti apa yang cocok dan sesuai dengan yang kita semua butuhkan.

Maka, kita perlu berpikir ulang tentang atap macam apa yang baik untuk kita. Jika tidak, Tuhan tidak akan mengubah takdir bahwa kita akan selalu kehilangan atap itu.

Maka Tuhan-mu lebih mengetahui apa-apa yang kau butuhkan….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.